Jumat, 17 Desember 2010

laporan kerja praktek

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Penulisan.
Di dalam perawatan suatu dies ( dies maintenance ) dalam suatu industri, terutama pada industri manufaktur , dies merupakan salah satu tool yang sangat fital. Dies merupakan cetakan yang di gunakan untuk membuat produk dalam suatu pabrik . Untuk menunjang fungsinya yang besar maka di perlukan perawatan dies agar proses produksi berjalan lancar.
Berdasarkan pemikiran tersebut, maka di dalam penulisan laporan kerja praktek perawatan dies dilakukan berbagai cara seperti preventif dan repair dies untuk mendapatkan kondisi dies yang selalu siap produksi. Sehingga didapat hasil produksi yang Ok sesuai dengan standar yang berlaku.
Dalam perawatan dies pada laporan kerja praktek ini, menggunakan jumlah stroke produksi sebagai alat bantu dalam preventif dies, mereview part-part didalam dies sampai mengkoreksi kondisi abnormal yang mungkin terjadi didalam dies setelah digunakan untuk proses produksi. Sehingga dies tersebut dapat dinyatakan siap untuk berproduksi.

1.2. Tujuan Penulisan.
Dalam perawatan dies bertujuan antara lain untuk mendapatkan :
1. Untuk mengetahui karakteristik dies yang OK dan NG sesuai dengan kondisi dies tersebut.
2. Dapat menganalisa kerusakan pada dies dan mengetahui cara perbaikannya.
3. Perawatan dies bertujuan untuk menunjang kelancaran proses produksi.

1.3. Metode Pengumpulan Data.
Untuk menunjang penulisan laporan kerja praktek ini, penulis mendapatkan data yang diperlukan, dengan cara sebagai berikut :
1. Metode Interview
Adalah metode pengumpulan data dengan bertanya dan bertukar pikiran kepada para Man Power Dies mengenai permasalahan yang biasa timbul didalam dies serta solusi – solusi yang dibutuhkan untuk menjawab permasalahan tersebut.

2. Metode Dokumentasi
Adalah metode pengumpulan data yang diperoleh dari buku spare part dies, dan dokumen – dokumen yang berkaitan dengan perawatan dies.
3. Metode Observasi
Adalah metode pengumpulan data dengan melakukan praktek menganalisa kerusakan pada dies sampai menemukan permasalahan yang ada dan konsultasi dengan pihak terkait untuk mencari solusi dalam mengatasi permasalahan yang di temui.
BAB II
SEJARAH PERUSAHAAN
2.1. Sejarah PT. Aisin Indonesia.
PT Aisin Indonesia bermula dari suatu perusahaan manufaktur komponen otomotif clutch dan window regulator bernama PT Dharma Sarana Perdana yang didirikan pada 1982. Saat itu perusahaan yang bernaung dibawah PT Multi Astra itu hanya memasok pasar local pabrikan kendaraan roda empat. Dengan menempati area produksi yang kecil, di Toyota Astra Motor- Plant Sunter I, perusahaan ini menjalankan produksinya sehari-hari. Selanjutnya berkembang dan pada tahun 1990 memiliki plant sendiri di Kawasan Industri PuloGadung.
Pada pertengahan tahun 1990-an terjadi peertumbuhan yang pesat dalam ekonomi global. Beberapa perjanjian perdagangan antar Negara dilakukan, antara lain North American Free Trade Agreement (NAFTA) di Amerika Utara yang ditandatangani pada tahun 1992 yang beroperasi secara penuh pada tahun 2003.
Inti dari kerjasama antar Negara ini adalah penghilangan atau penurunan tariff bea masuk antar Negara anggota sehingga secara ekonomi dapat mempengaruhi nilai perdagangan antar negara. Dampaknya adalah kompetisi perdagangan global diantara perusahaan-perusahaan dari Negara yang berbeda menjadi semakin ketat. Konsekuensinya adalah bagaimana memanfaatkan situasi yang ada untuk meningkatkan nilai kompetitif perusahaan
Aisin Seiki Co,. Ltd adalah pemain dalam industri komponen otomotif yang sudah sangat dikenal secara internasional. Reputasinya sebagai pemasok kendaraan kelompok Toyota sudah diakui sejak dulu.
Pada pertengahan tahun 1990-an Aisin Seiki melakukan beberapa kebijakan strategic yang inovatif dalam mengantisipasi dampak ekonomi global. Dengan industri otomotif nasional yang memasuki tingkat kematangan dan kebutuhan akan kendaraan yang menjurus kea rah stagnasi, Aisin Seiki mulai memikirkan kemungkinan untuk meningkatkan kegiatan operasionalnya di luar negeri.
Beberapa kawasan yang mempunyai potensi ekonomi yang prospektif mulai dilirik. Cina, Negara-negara di kawasan Asia Tenggara, dan India merupakan Negara-negara industri dan ekonominya semakin berkembang. Indonesia menjadi salah satu pilihan Aisin Seiki untuk meningkatkan kinerjanya secara global. Pasar yang bebas dan kestabilan politik dan ekonomi menjadi bagian dari pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan. Pada tanggal 3 Juli 1995, Aisin Seiki Co,. Ltd dan PT Astra Otoparts Tbk melalui anak perusahaannya, PT Senantiasa Makmur, melakukan kerjasama Joint Venture dan membentuk suatu perusahaan baru bernama PT Aisin Indonesia. Pada tanggal 3 September 1996 PT Aisin Indonesia meresmikan kegiatan operasional pabrik barunya di Cikarang
Lini produk antara lain :
1. Clutch : Produk utama , sebagai basis produksi Aisin Seiki di Asia Tenggara untuk kopling manual.
2. Door Lock : Produk utama, sebagai basis produksi Aisin Seiki di Asia Tenggara dan Australia
3. Door Frame : Produk strategis untuk skema lokalisasi
4. Lain-lain : Intake Manifold, Window Regulator, Door Handle, Door Hinge, Hood Lock, Door Check, dan striker
Dan beberapa Client dari PT. Aisin Indonesia antara lain :
1. PT Toyota Motor Manufakturing Indonesia
2. PT Asmo Indonesia
3. PT Epindo
4. PT Honda Prospek Motor
5. PT Nusa Toyotetsu Corporation
6. PT Nissin Kohki Indonesia


2.2. Visi dan Misi PT. Aisin Indonesia
2.2.1. Visi :
1. Sebagai atau menjadi manufaktur komponen otomotif terbaik di Asean.
2. Sebagai atau menjadi anak perusahaan yang terbaik di Astra Group
2.2.2. Misi :
1. Untuk memastikan kepuasan pelanggan kami dengan teliti sesuai kebutuhan mereka dan membawa perusahaan dengan modal intelektual dan menghubungkan asset operasional dalam kebutuhan ini.
2. Untuk memastikan bahwa semua pekerjaan dilaksanakan dengan yang terbaik dengan memanfaatkan kemampuan kami dengan semua asset perusahaan secara maksimum.
3. Untuk mengembangkan tenaga kerja kami secara terus menerus dan menumbuhkan kwalitas pengetahuan keahlian dan technologi demi kepentingan karyawan, perusahaan dan bangsa.



2.3. Struktur Organisasi dan Management PT. Aisin Indonesia
Struktur organisasi perusahaan ini disusun sebagaimana layaknya suatu badan usaha yang bergerak dalam bidang manufaktur komponen otomotif PT Aisin Indonesia membagi bagian –bagian secara fungsional, hal ini untuk mempermudah kinerja dari perusahaan. Struktur organisasi memberikan wewenang kepada setiap bagian untuk melaksanakan tugas yang menjadi kewajiban dari perusahaan tersebut.
Struktur organisasi management PT. Aisin Indonesia sebagai berikut :





Di perusahaan PT. Aisin Indonesia masing-masing Departement mempunyai struktur organisasi seperti contoh struktur organisasi Departemen Produksi IV line Stamping C Type :

BAB III
DASAR TEORI

III.1. Pengertian Umum Dies Maintenance
Dies Maintenance merupakan bagian penting dalam sebuah perusahaan, karena dies maintenance yang bekerja memelihara dan menjaga dies agar tetap stabil sehingga memenuhi produksi yang diharapkan, itulah tujuan dari dies maintenance.
Jadi, dies maintenance adalah mempertahankan suatu keadaan yaitu keadaan akhir harus sama dengan keadaan awal, maka dies maintenance mempunyai maksud ;
1. Mempertahankan keadaan dies pada saat ini seperti keadaan sebelumnya ; dengan kata lain
2. mempertahankan spec ( spesifikasi ) dies pada setiap saat/ waktu.
Tujuan Dies Maintenance :
1. Pemenuhan spec individual dies
2. Dies siap dioperasikan setiap saat
3. Mempunyai Keandalan “ Realiability “ yang tinggi
4. Pendekatan umur teknis dengan umur dies
5. Produktivitas tetap terjaga

Ada dua ( 2 ) jenis karakteristik untuk menunjukan tingkat kestabilan peralatan atau dies yaitu :
1.Pengukuran quantitas produk abnormal, yang seharga dengan kerugian kesempatan produksi, yang disebabkan kegagalan peralatan.
2.Menghitung kegagalan waktu ( Non Production Time = NPT )
Dalam bab ini akan penulis uraikan tentang operasi maintenance terhadap dies atau peralatan di PT.AISIN INDONESIA.

Klasifikasi peralatan yang ada hubungannya dengan proses, yang mempengaruhi jumlah produksi, baik secara langsung maupun tidak langsung adalah sangat penting dilakukan agar dapat diambil tindakan dengan metode yang tepat di dalam pemeliharaan dies. Adalah amat sulit meniadakan kegagalan peralatan atau dies bahkan bisa dikatakan tidak mungkin, tetapi mungkin untuk menekankannya sekecil mungkin dengan cara bekerja dengan teliti dan pasti saat melakukan overhaul atau saat pekerjaan harian maintenance, sehingga kegagalan tiba-tiba dapat di hindari. Karena kegagalan peralatan atau dies dapat mempengaruhi jumlah produksi sehingga dapat mempengaruhi qualitas dan biaya.

Sesungguhnya kemampuan teknik skill pekerja sangatlah erat hubungannya dengan kegagalan/keberhasilan peralatan atau dies.Oleh karenanya pendidikan dan pelatihan secara berkesinambungan adalah amat penting untuk dilaksanakan, dan akan memerlukan waktu yang amat relative lama untuk mencapai kemampuan teknik yang tinggi.

III.1.1 Kegiatan Utama Maintenance
Kegiatan maintenance terdiri dari dua kegiatan utama yaitu:
1. Management Maintenance ( MM )
2. Technical and Operasional Maintenance ( TOM )

III.1.2. Management Maintenance ( MM )
Mengapa manajemen terjadi atau muncul, karena sifat manusia : mempunyai keinginan yang tak terbatas sedangkan sumber daya yang mendukungnya terbatas, maka harus ditetapkan beberapa prioritas untuk menyelesaikan persoalan / permasalahannya sampai tuntas.

Manajemen (management ) berasal dari pembendaan kata kerja to manage, yang berarti mengatur, namun dalam hal ini mengandung makna yang lebih luas; kecuali mengatur, juga memimpin dan berarti pula memutuskan yaitu suatu tindakan dalam mengambil keputusan.

Manajemen masuk disegala lini kegiatan, baik kegiatan kelompok maupun individual dari suatu kegiatan yang besar misal pada suatu negara, industri, pabrik sampai dalam kehidupan keluarga atau individu-individu seseorang.

Di dalam suatu system dengan proses I-O ; atau tentu akan melibatkan berbagai sumberdaya – sumberdaya , mulai dari manusia sebagai pelaku kegiatan, dies dan alat sebagai pembantu manusia dalam melakukan kegiatan, dan sumber daya yang lain seperti bahan untuk kegiatan, dana serta manajemen ini, maka mereka inilah sebagai obyek manajemen yang harus menjadikan fokus kegiatan manajemen.

Secara umum manajemen mempunyai fungsi yaitu fungsi-fungsi manajemen dan mempunyai objek ( sasaran ) yaitu objek manajemen. Fungsi adalah ketergantungan yang erat meliputi tugas, kewajiban yang saling ketergantungan.
Kegiatan manajemen berfungsi bila di pengaruhi oleh perencanaan ( Planing ), pengorganisasian kegiatan ( organizing ), penggerakan kegiatan ( actuating ) dan pengontrolan ( controlling ).
Ada 5 objek yang menjadi objek manajemen yang semuanya di awali huruf M ( Men, Money, Material, Machine , Methode ) . Jadi objek manajemen adalah 5 M.

Management pemeliharaan dies atau alat perlu memperhatikan cara-cara di bawah ini, yaitu :
a. Preventive Maintenance ( PM )
Digunakan untuk peralatan yang akan memberikan keuntungan lebih. Melalui pencegahan sebelum mengalami kerusakan.
Ada empat fyngsi dasar preventive maintenance, yaitu :
- Pelumasan
- Pemeriksaan
- Overhaul
- Penggantian suku cadang
b. Break Down Maintenance
Digunakan untuk peralatan yang lebih baik, diperbaiki setelah mengalami kerusakan. Biasanya dialami pada komponen-komponen mesin dengan biaya rendah pada peralatan-peralatan mesin penunjang dan tidak secara langsung dihubungkan dengan proses produksi.

c. Corrective Maintenance
Biasanya hal ini dilakukan untuk perbaikan pada peralatan atu komponen saja, sebelum terjadi kerusakan dan harus dilakukan penyelidikan terhadap batas umur komponen
d. Condition Base Maintenance
Pemeriksaan atau perbaikan tidak dengan rencana yang ditetapkan. Jika ditemukan keabnormalan segera dilakukan perbaikan, oleh karenanya keadaan dies harus selalu di monitor.
III.1.3 Technical and Operational Maintenance ( TOM ).
Technical Operational Maintenance adalah perawatan secara operasional terhadap mesin dan dies agar melaksanakan fungsinya dengan baik sesuai dengan keadaan semula ( sesuai dengan spesifikasinya dalam unjuk kerja dan selalu siap menjalankan tugasnya sewaktu-waktu di butuhkan dalam sembarang waktu ).
Manajemen umum yang di terapkan pada kegiatan maintenance, kegiatannya berupa procedural, manajerial, perangkat lunak / soft ware, form-form operasional distribusi, evaluasi , administrasi, hal ini di lakukan dengan kegiatan paper work. Lingkup kerjanya cukup luas mulai melakukan planning, organizing, actuating, sampai controlling, terhadap seluruh kegiatan suku cadang, bahan, dan alat , pergudangan dan tools bahkan penyiapan prosedur operasionalnya dengan berbagai strata dokumennya pun harus di siapkan.


No Objek / management fungsi Planing Planing Actuating Controlling
1 Men Planing untuk Men Organizing untuk Men Actuating untuk Men Controlling untuk Men
2 Money Planing untuk Money Organizing untuk Money Actuating untuk Money Controlling untuk Money
3 Material Planing untuk Material Organizing untuk Material Actuating untuk Material Controlling untuk Material
4 Machine / dies Planing untuk Machine / dies Organizing untuk Machine/dies Actuating untuk Machine / dies Controlling untuk Machine / dies
5 Methode Planing untuk Methode Organizing untuk Methode Actuating untuk Methode Controlling untuk Methode


III.2. Manual Procedure, Petunjuk, Operasional dan form Operasi
Untuk mencoba membuat perangkat lunak yang berupa manual / prosedur yang mendekati lengkap di perlukan perhitungan dokumen, berapakah kiranya jumlah dokumen yang di perlukan, umtuk itu kita coba mempelajari matrik dokumennya seperti tersebut di atas. Untuk melaksanakannya manajemen ini tertib dan benar maka harus ada cara-cara yang tersusun sebagai pedoman / manual, prosedur yang tetap ( SOP ), petunjuk pelaksanaan ( juklak ), petunjuk teknis ( juknis ) dan formulir operasional sehingga bila di tuliskan hirarkinya menjadi :
01-Pedoman ataupun manual
02-Prosedur-prosedur tetap (protap)
03-Petunjuk ( petunjuk teknis, petunjuk pelaksanaa, petunjuk lapangan )
04-Form-form operasional ( format isian khusus )

Mengingat perawatan adalah suatu kegiatan yang berkaitan dengan keadaan yang menyerap berbagai aktifitas manajerial maupun teknis maka kehadiran manajemen perawatan adalah sangat penting/urgen karena berkaitan dengan proses produksi dan proses kegiatan usaha. Suatu kegiatan harus terukur adapun nilai ukur dari manajemen perawatan adalah berupa nilai manfaat yang merupakan suatu keuntungan, karena setiap usaha harus/mutlak mencapai atau meraih keuntungan.

Dalam mengawali proses manajemen maintenance, harus di siapkan pedoman pokok manajemen yang akan menghasilkan dokumen. Semua dokumen tersebut akan berarti dengan melalui :
a. Sosialisasi yang teratur terprogram dan tiada henti
b. Pemahaman yang kuat sampai membudaya
c. Disiplin, ketaatan, kemauan, kerja keras bagi semua pihak, semua lini dan jajarannya
d. Penegakan hukum dalam hal ini penegakan aturan sehingga terjadi reward and punishment yang setara
e. Hubungan kerja yang baik


III.3. Pembuatan Manual
Dari segi hirarki atau tingkat/derajatnya kita kembali mengingat hirarki seperti system QA dan QC yang di gambarkan dalam segitiga hirarki. Adapun cara pembuatan manual, dilakukan oleh kepala-kepala yang bertanggung jawab dalam organisasi perusahaan yang mempunyai wawasan atas perusahaan ( tingkat manager ), sedangkan prosedur di buat oleh kelompok-kelompok fungsional / operasional di bawahnya dalam menyikapi dan melaksanakan secara operasi di bidang keahliannya, sedangkan petunjuk teknis, operasi, pelaksanaan dilakukan oleh pelaksana-pelaksana teknis ataupun operasi lapangan dengan pengarahan pimpinannya.

III.4. Menggerakkan Kegiatan Maintenance
Kegiatan maintenance dapat di gerakkan dengan berbagai cara mulai dari masalah rutin, berjangka ( terprogram ), dan mendadak kegiatan dapat di mulai dari program yang berkesinambungan, mulai penggagasan, perancangan awal, detail, pengajuan anggaran, pematangan kerja, pelaksanaan sampai evaluasi hasil.

III.5. Pengaturan Bahan Suku Cadang dan Alat
Pengaturan bahan suku cadang dan alat di atur secara terperinci dan khusus, antara pimpinan yang terkait dalam hal ini pelaksanaan program, kegiatan, sampai pelaksana lapangan dan khususnya bagian toolcribs sebagai penyimpan, dan pengelola pergudangan yang selalu terkait dengan kegiatan KPK ( kartu perintah kerja ) atau Work Order , kartu OKE ( Order Kerja Elektro Mekanik ), daftar stock , hargai sampai realisasi nilai suatu kegiatan, bahkan setiap kegiatan yang menyangkut objek 5M, dapat terpantau semuanya. Maksud dari semuanya adalah suatu pelaksanaan seperti dalam automatic control , secara umpan balik, dapat di urut dan di runut, untuk perbaikan system.

III.6. Technical Maintenance
Maintenance secara teknik terdiri dari kegiatan perbaikan, perawatan, dan pemeliharaan, perbaikan di lakukan apabila terjadi penyimpangan fungsi ( malfunction )
Sehingga atau terjadi perubahan specifikasi secara mendadak, sedangkan perawatan suatu perlakuan yang rutin, untuk hal-hal yang sifatnya ringan, walaupun demikian apabila tak dikerjakan akan berakibat besar terhadap pengaruh perubahan spesifikasi, sedangkan pemeliharaan kegiatan bersifat lebih besar daripada perawatan sesuai dengan program maintenance, secara berkala sesuai dengan petunjuk dari manual mesin itu sendiri.
Technical dan managemen maintenance mempunyai hubungan yang erat sekali, yang akan berarti bila kedua hal tersebut di lakukan secara sempurna.

III.7. Patrol Job, Preventive Maintenance, Repair Maintenance, Overhaul Maintenance
Patrol Job : di lakukan secara rutin, setiap pergantian shift, atau setiap hari, untuk keadaan mesin-mesin yang sedang operasional pada pesawat, system atau instalasi.
Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin, dan ter record ( terekam dalam suatu formulir patrol job atau loog-book ).
Preventive Maintenance : kegiatan yang terencana sesuai program pemeliharaan, untuk di lakukan pembenahan, pengesetan, penyetelan, perbaikan ringan, supaya kembali pada spesifikasi semula.
Repair Maintenance merupakan kegiatan perbaikan atas peralatan/ dies yang rusak dengan waktu yang sedang atau waktu yang lama dengan harapan selama perbaikan tidak mengganggu proses produksi, sedangkan apabila mengganggu proses produksi kegiatan tersebut di shutdown-maintenance. Shutdown maintenance dapat terprogram dapat pula tidak terprogram, apabila tidak terprogram di sebut breakdown maintenance, perlu diketahui bahawa umur mesin/ dies di pengaruhi oleh umur komponen, yang kesemuanya dapat di prediksi secara pendekatan, melalui estimasi dari formulasi, dari pengalaman operasi, dari informasi pabrik pembuat/manual mesin atau informasi perusahaan lain, hal seperti inilah yang menimbulkan beberapa istilah : MTBF ( mean time between failure = waktu rata-rata antara kegagalan), MTBF ini di pergunakan untuk elemen mesin atau dies yang dapat kita perbaiki, sedangkan MTTF ( mean time to failure = waktu rata-rata untuk kegagalan ) di pergunakan untuk elemen mesin atau suku cadang yang tidak di perbaiki, misal seal-seal hydraulic dan bantalan gelinding.
Overhaul Maintenance, suatu kegiatan besar / menyeluruh atas semua enjin utama, dalam instalasi, sesuai dengan program pemeliharaan, yang pada program maintenance menunjukkan saatnya penggantian komponen dan perbaikan-perbaikan, hal tersebut dapat di ketahui dari banyaknya komponen yang harus di ganti atas kelipatan waktu dan kebersamaan jadwal perbaikan dies.Semua kegiatan ini harus di dukung oleh 5M yang memadai , mengingat sehatnya dies dalam proses produksi menjadi sumber pendapatan perusahaan yang berarti pula kesejahteraan karyawan, dan semua aspek kehidupan bernegara dan roda perekonomian negeri ini.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dies Maintenance merupakan bagian dari Department Produksi IV yang berperan menjaga, memelihara serta merawat dies supaya tetap stabil agar mampu memproduksi sesuai yang diharapakan oleh perusahaan, itulah peran dies maintenance yang ada di PT.Aisin Indonesia.

Dies maintenance pada PT.Aisin Indonesia di dalam melakukan kegiatannya harus sesuai standart kerja yang telah di tetapkan oleh Departement Produksi IV, tentunya untuk menjaga kedisiplinan serta profesionalisme Man Power maintenance sehingga terhindar dari kecerobohan yang nantinya akan mengakibatkan kecelakaan kerja. Salah satu kedisiplinan dies maintenance pada PT.Aisin Indonesia ialah di dalam mulai merepair dies harus sesuai dengan Order Repair dari operator produksi yang bertujuan sebagai alat komunikasi antara MP produksi dengan MP maintenance.

Dies Maintenance di dalam mmelaksanakan tugasnya melakukan dua metode yaitu ;

IV.1 PREVENTIVE MAINTENANCE

Untuk menjaga kondisi dies tetap prima dalam berproduksi, MP maintenance melakukan preventive seperti

1. Cleaning Dies
Bertujuan menghilangkan kotoran pada dies yang bisa menyebabkan trouble dalam proses produksi



2. Setting Dies
Di dalam setting ini MP maintenance memeriksa kondisi dies apakah semua part, baut terpasang dengan benar hal ini bertujuan untuk menghindari dies trouble dalam proses produksi


3. Grinding Spare Part
MP maintenance mengasah kembali punch-punch yang sudah abrasive atau Burry hal ini bertujuan agar pada saat mulai produksi produk tidak NG
Di dalam Preventive Maintenance biasanya di lakukan berkala sesuai hasil produksi misalkan per 5000 stroke pada dies Gear PW Front IMV proses shaving dilakukan proses grinding punch agar proses produksi berjalan lancar.
Dalam preventive dies, seorang MP dies maintenance harus mengikuti standart ( check sheet) yang ada di PT Aisin Indonesia .
















Contoh Check Sheet Preventif



IV.2 REPAIR MAINTENANCE
IV.2.1 Persiapan Dies Maintenance Dalam Pelaksanaan Repair Maintenance
Dies maintenance pada PT.Aisin Indonesia , untuk menunjang di dalam menghadapi pelaksanaan repair dies selalu memperhatikan persiapan-persiapan yang harus di lakukan. Di mana persiapan tersebut adalah :
1. Persiapan Administrasi
Persiapan administrasi meliputi :
- Mengambil Order Repair
- Lembar Maintenance Report
- Lembar Request Part
- Persiapan alat yang di butuhkan

2. Persiapan Keselamatan Kerja
Meliputi :
- Alat-alat keselamatan kerja sesuai dengan jenis pekerjaannya ( Alat Pelindung Diri /APD )
- Batas-batas daerah Repair, poster keselamatan ( K3 )
- Pengarahan kerja dan keselamatan kerja

3. Persiapan Kerja
Meliputi :
- Pemakaian alat Bantu ( hoist ) sesuai kebutuhan
- Persiapan tools dan special tools
- Pengambilan data kondisi dies




IV.2.2 Diagram Sebab Akibat

Diagram sebab akibat merupakan diagram yang digunakan oleh Dies Maintenance PT. Aisin Indonesia, dalam menyelesaikan suatu masalah pada sebuah alat atau dies, sehingga dapat di pecahkan akar permasalahannya dengan cara menyelusuri system kerja pada dies atau alat.


ORANG DIES

LAIN-LAIN METODE MATERIAL

Diagram Sebab Akibat


IV.3 SISTEM KERJA MAINTENANCE PT.AISIN INDONESIA

Sistem kerja pada dies maintenance PT.AISIN INDONESIA , dala, pelaksanaanya selalu mempertimbangkan segalanya seperti : unsure-unsur bahaya, alat pengaman, safety, dan lain-lain yang berhubungan dengan pekerjaan dapat berjalan dengan baik.

Salah satu contoh dari system yang penulis ambil adalah dalam pelaksanaan Repair Dies PW Fr IMV .

Dalam pelaksanaanya yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
1. Pelaksana :
• Pemimpin kerja : Leader / Job Profesional
• Penanggung Jawab : Supervisor
• Tenaga Kerja : 1 orang
2. Tempat Pelaksanaan : Area Dies Maintenance
3. Unsur-unsur bahaya : Kejatuhan Baut
Tangan Tergores
Debu
4. Penanggulangan Bahaya : Gunakan Helm Safety
Gunakan Sarung Tangan
Gunakan Kacamata Safety
5. Alat Safety : Sarung Tangan
Safety Shoes
Helmet Safety
Masker Hidung


IV.4 SISTEM PELAKSANAAN REPAIR DIES
IV.4.1 Sistem Pelaksanaan Repair Dies
Dalam dies maintenance PT Aisin Indonesia, pelaksanaan repair dies ada dua metode yaitu :
IV.4.2 Repair Dies diatas Mesin
Repair di atas mesin merupakan suatu metode repair yang memerlukan waktu sedikit dengan kondisi abnormal / NG yang di perkirakan dapat di repair diatas mesin biasanya kerusakan ringan. Waktu yang di butuhkan maximal 20 menit hal ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi produktifitas.


Pelaksanaan Repair Dies Gear PW Fr IMV diatas Mesin



Pengecekan pada Gear Pw Fr IMV pada saat repair diatas mesin antara lain:
1.Pitch of Radius ( No 9 )
Specifikasi 0 sampai -15
Clearance max 0,1
Bila pitch of radius ini tidak sesuai standart maka bisa dilakukan perbaikan diatas mesin
masalah perbaikan
Pitch of radius over (+) a. turunkan DH mesin
b. stopper dies di geser ke depan
Pitch of radius minus (-) a. naikkan DH mesin
b. stopper dies geser ke belakang

2.Addendum Circle Radius ( N0 10 )
Spesifikasi R 121,2
Toleransi 0 sampai -15


Bila Addendum Circle Radius ini tidak sesuai standart maka bisa dilakukan perbaikan diatas mesin.

masalah perbaikan
Addendum radius over ( + ) a. turunkan DH mesin
b. stopper dies geser ke depan
Addendum radius minus ( - ) a. naikkan DH mesin
b. stopper dies geser ke belakang


IV.4.2 Repair Dies dibawah
Yang di maksud Reapai di bawah adalah salah satu metode repair yang dilakukan bukan diatas mesin atau dies sudah diturunkan dari mesin, biasanya dilakukan di area repair dies. Salah satu alasan repair di bawah yaitu kondisi kerusakan yang parah atau perlu penanganan lebih sehingga di perlukan pembongkaran dies, repair punch, dies dan di assembly kembali setelah proses repair.















Pelaksanaan Repair Dies Gear PW FR IMV dibawah
1. Ambil form order repair dari atas dies


2. Proses Pembongkaran Dies
a. Angkat Upper dies menggunakan hoist
b.Lepaskan baut pengikat punch atas kemudian ambil punch dari upper dies
c. Lepaskan stopper dies kemudian ambil stopper dari die
d. Lepaskan baut pengikat punch bawah kemudian ambil punch dari die


3. lakukan grinding punch, dengan urutan sebagai berikut :
a. Tempatkan punch pada meja eretan mesin grinding
b. Pasang stopper pada samping punch
c. Magnet pada posisikan ON

d. Setting batu gerinda dengan punch dengan menekan tombol slide down
eretan batu grinda sampai menempel punch
e. Cek kondisi punch sebelum mesin grinding di ON kan
f. Mesin grinding posisikan ON
g. Atur pemakanan grinda step by step mulai dari 0,01 mm dan seterusnya
sampai sesuai dengan yang di ijinkan.
h. Putar tombol eretan maju mundur karena mesin grinding bekerja manual
i. Lakukan proses grinding sampai sesuai dengan hasil yang di inginkan
4. Proses Assembly Dies
a .Pasang punch pada lower dies kemudian kencangkan dengan baut
b. Pasang stopper pada dies kemudian kencangkan dengan baut
c. Pasang punch pada upper dies kemudian kencangkan dengan baut
d. Pasang upper dies dengan menggunakan hoist pada lower dies
e. Beri form after repair sebagai tanda dies dalam keadaan OK








Setelah repair dies selesai maka setiap MP dies maintenance harus mengisi laporan Maintenance Report seperti contoh di bawah ini


BAB V
PENUTUP

V.1 KESIMPULAN
Berdasarkan teori dan hasil analisa praktek dies maintenance, dapat disimpulkan bahwa :
1. Maintenance bertujuan untuk memelihara dies agar siap untuk proses produksi
2. Di dalam maintenance lebih baik dilakukan preventive daripada repair dies karena lebih efektif dan efisien
3. Untuk punch yang ketebalan tidak memenuhi spesifikasi sebaiknya diganti punch baru karena akan berpengaruh pada ketajaman punch tersebut

IV.2 SARAN
1. Maintenance Report sebaiknya dibukukan karena bila pada suatu saat mengalami trouble dies yang sama kita bisa langsung melakukan perbaikan dengan melihat buku tersebut
2. Spare part dies yang tidak standar sebaiknya di ganti untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan
3. Setiap MP dies maintenance harus bisa melakukan analisa kerusakan dies serta perbaikannya
4. Dalam pelaksanaan maintenance kita harus memperhatikan unsur safety dalam setiap pekerjaan

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar